PENELITIAN TINDAKAN KELAS TIK

PROPOSAL PENELITIAN
   I.            JUDUL PENELITIAN :
KEEFEKTIFAN MODEL PENGAJARAN NONDIREKTIF UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN FUNGSI TOOLBAR DAN SUB MENU DALAM MICROSOFT WORD PADA SISWA KELAS VIII
   II.           PENDAHULUAN 

A.     Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan aspek penting bagi pengembangan sumber daya manusia, sebab pendidikan merupakan wahana atau salah satu instrumen bukan saja yang digunakan untuk membebaskan manusia dari keterbelakangan, melainkan juga dari kebodohan dan kemiskinan. Pendidikan diyakini mampu menanamkan kapasitas baru bagi semua untuk mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru sehingga dapat diperoleh manusia yang produktif. Semua itu dapat diperoleh dengan belajar. Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan ia mencangkup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Belajar memegang peranan penting didalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan persepsi manusia. Oleh karena itu, dengan menguasai prinsip-prinsip dasar tentang belajar, seorang mampu memahami bahwa aktivitas belajar itu memegang peranan penting dalam proses psikologis.
Di jenjang SMP, mata pelajaran TIK merupakan mata pelajaran yang membekali keterampilan teknologi guna melakukan kegiatan dan pekerjaan yang praktis dalam kehidupan sehari hari. Yang menjadi masalah dari para pendidik ialah bagaimana cara menyampaikan ilmu pengetahuan tersebut kepada para siswa sehingga siswa dapat mengerti dan memahami ilmu pengetahuan yang diajarkan sehingga siswa mampu untuk menerapkan dalam kehidupan sehari hari dan dapat menjelaskan secara teoritis.
Di SMP 3 Tambakromo Kabupaten Pati , terdapat beberapa kendala sosial, psikologis dan teknis yang dialami oleh para siswa, diantaranya adalah :
1.      Lingkungan masyarakat agraris yang mempunyai ekonomi lemah dan memiliki kulture pendidikan yang lemah
2.      Kondisi psikologis siswa yang takut untuk mencoba, takut rusak dan merasa rendah diri
3.      Komputer yang terbatas membuat siswa lebih senang melihat dari pada bekerja dengan komputer
4.      Siswa kebingungan menentukan letak toolbar dan sub menu untuk mengaplikasikan dalam pekerjaan praktis.
Dengan latar belakang masalah diatas penulis berkeyakinan bahwa harus mengubah model pembelajaran yang sesuai dengan menggunakan model pengajaran Nondirektif yang difokuskan untuk mempermudah pembelajaran. Tujuan utama Nondirektif difokuskan untuk mencapai integrasi pribadi yang lebih besar, efektifitas yang realistis.(Dahlan : 66 )

B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dikemukakan bahwa masalah dalam penelitian ini adalah rendahnya kemampuan siswa dalam menentukan fungsi Toolbar dan Submenu guna mengaplikasikan kepada pekerjaan praktis yang berhubungan dengan software pengolah kata Microsoft word. Adapaun identifikasi awal dari masalah yang dihadapi siswa adalah sebagai berikut :
·        Siswa merasa minder dan rendah diri
·        Siswa takut mencoba dan takut komputer menjadi rusak
·        Siswa tidak mengetahui ikon dalam toolbar dan submenu serta fungsinya sehingga pekerjaan yang diberikan guru tidak tepat waktu, tidak sempurna dan seadanya
Dengan merujuk pada papasan diatas maka dapat diungkapkan mengenai rumusan masalah :
1.      Efektifkah Model Pembelajaran Nondirektif untuk membantu masalah siswa memahami ikon toolbar dan submenu ?
2.      Dapatkan Model pembelajaranNondirektif memupuk mentalitas yang optimis dan tidak takut mencoba dari para siswa ?

c.       Pembatasan Masalah
Pada penelitian ini terdapat 2 variabel yaitu variabel X adalah Model Pembelajaran Nondirektif dan variabel Y adalah siswa kelas VII SMP Negeri 3 Tambakromo Tahun Ajaran 2010/2011

d.      Cara pemecahan masalah
model pembelajaran Nondirectif dipilih sebagai pemecahan masalah karena beberapa hal :
1.      Lebih komperehensif dalam mengupas masalah siswa
2.      Memperhatikan aspek psikologi, sosial dan akademis siswa
3.      Guru sebagai fasilitator dan tidak harus struktural dalam mnyelesaikan masalah akademis

e.      Perumusan Masalah
·              Apakah dengan model pembelajaran Nondirectif siswa dapat menghilangkan perasaan minder dan rendah diri yang berpengaruh dalam pembelajaran TIK ?
·              Apakah dengan model pembelajaran Nondirectif siswa dapat menghilangkan rasa takut mencoba sehingga siswa lebih percaya diri?
·              Apakah dengan model pembelajaran Nondirectif  siswa lebih mudah memahami bentuk dan fungsi  ikon dalam toolbar dan submenu serta fungsinya sehingga pekerjaan yang diberikan guru lebih tepat waktu, lebih sempurna dan berestetika?

f.        Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa tujuan yaitu :
·              Tujuan Umum
1.      Meningkatkan pemahaman siswa dalam pengenalan ikon menu dan submenu dalam program pengolah kata
2.      Meningkatkan kepercayaan diri dari siswa untuk lebih mau mencoba dan berlatih

·              Tujuan Khusus
1.      Meningkatkan pemahaman siswa dalam pengenalan ikon menu dan submenu dalam program pengolah kata pada kelas VIII SMP 3 Tambakromo
2.      Meningkatkan kepercayaan diri dari siswa untuk lebih mau mencoba dan berlatih pada kelas VIII SMP 3 Tambakromo

g.      Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa manfaat yaitu :
·        Manfaat Teoritis
1.      Mendapatkan pengetahuan tentang penanganan masalah pembelajaran siswa tentang pemahaman ikon toolbar dan submenu melalui Model Pembelajaran Nondirektif
2.      Sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya
·        Manfaat Praktis
1.      Bagi siswa penelitian ini akan menambah rasa percaya diri dan lebih memahami ikon toolbar dan submenu
2.      Bagi guru penelitian ini dapat membantu menuntaskan pembelajaran dan pengembangan kompetensi guru
4.      Bagi Sekolah penelitian ini akan menjadi jembatan untuk menghasilkan output yang trampil dalam skil teknologi dan berdaya guna dalam masyarakat
5.      Bagi Perpustakaan penelitian ini akan menambah khasanah pengetahuan pembaca guna mengembangkan penelitian lain yang lebih efektif
III.       Kajian Teori
a.   Kajian Teori
Model Pengajaran Non-Direktif didasarkan kepada penelitian dari Carl Roger dan para pendukung lain dari konseling non-direktif. Rogers memperluas pandangan terapinya sebagai suatu model pembelajaran bagi pendidikan: beliau percaya bahwa hubungan manusia yang positif akan memberikan kesempatan luas bagi sumberdaya manusia untuk berkembang, dan oleh karenanya, instruksinya harus lebih didasarkan kepada konsep hubungan sumberdaya manusia ketimbang kepada konsep masalah subyek, proses berfikir, ataupun sumber-sumber intelektual lainnya.
Peran guru dari pengajaran non-direktif adalah pada peran dari guru tersebut sebagai fasilitator bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa. Didalam peran ini, guru akan membantu siswa untuk menemukan gagasan-gagasan baru tentang kehidupannya, baik yang berhubungan dengan sekolah maupun dalam kehidupannya sehari-hari. Model ini berasumsi bahwa siswa mau bertanggungjawab atas proses belajarnya dan keberhasilannya sangat tergantung kepada keinginan siswa dan pengajar untuk berbagi gagasan secara terbuka dan berkomunikasi secara jujur dan terbuka dengan orang lain. Model pengajaran non-direktif berfokus kepada fasilitator belajar. Tujuan utamanya adalah untuk membantu siswa didalam mencapai integrasi dan efektivitas tertinggiya serta melakukan penilaian mandiri yang realistic.
Modle ini menggambarkan konsep yang dikembangkan oleh Carl Roger untuk konseling non-direktif, dimana kapasitas klien untuk memperlakukan kehidupannya secara konstruktif sangat ditekankan. Dengan demikian, didalam pengajaran non-direktif guru sangat mempedulikan kemampuan siswa untuk mengidentifikasi masalah-masalahnya dan merumuskan solusi-solusinya.
Pengajaran non-direktif cenderung bersifat berfokus kepada siswa dimana fasilitator berusaha untuk melihat dunia sebagiamana siswa melihatnya. Hal ini akan menciptakan suasana komunikasi yang empathetic dimana pengendalian diri siswa dapat dipupuk dan dikembangkan.
Guru juga berperan sebagai benevolent after ego, dimana ia menerima semua perasaan dan pemikiran, bahkan dari siswa yang memiliki pendapat keliru. Disini guru secara tidak langsung berkomunikasi dengan siswa bahwa semua pendapat dan perasaan bisa diterima. ( Dahlan : 67)
Microsoft Word adalah aplikasi sebuah program pengolah kata (word processor) yang dibuat oleh Microsoft Corporation. Program ini biasanya digunakan para pemakai komputer untuk kegiatan tulis-menulis. Seperti pembuatan surat, proposal, artikel, brosur, booklet, dan lain-lain dengan aneka font (huruf) dan layout yang tersedia. Kita juga dapat membuat naskah ilmiah dengan rumus-rumus matematika, fisika maupun kimia dan mendesain sebuah dokumen dengan variasi gambar yang unik dan sangat lengkap.
Baris toolbar adalah kumpulan perintah dalam bentuk ikon-ikon yang berisi tool atau alat untuk mempermudah menyelesaikan dokumen. Fungsi utama Toolbar adalah mempercepat akses kesejumlah perintah yang sering dipakai. Untuk menggunakan Toolbar, klik salah satu icon yang mewakili perintah yang kita inginkan. Bila ikon tampak tertekan ke dalam, berarti ia sedang diaktifkan. Untuk menonaktifkannya, kita tinggal menekan ikon tersebut sekali lagi. Secara default, toolbar di Ms. Word ada dua formatting






















b. Kerangka berfikir
 






























c.       Hipotesis Tindakan
Penggunaan metode pembelajaran Nondirect dapat meningkatkan pemahaman fungsi ikon toolbar dan submenu pada Kelas VIII SMP Negeri 3 Tambakromo

IV.              Metode Penelitian
1.      Setting Penelitian
SMP Negeri 3 Tambakromo terletak di desa Mangunrekso Kecamatan Tambakromo . Secara geografis sekolah ini terletak di Kabupaten Pati bagian selatan. SMP Negeri 3 Tambakromo memiliki 12 kelas, masing masing pararel terdiri dari 4 kelas. Setting penelitian ini difokuskan pada Kelas VIII Semester 1 dengan pokok bahasan Microsoft Word.
2.      Subyek Penelitian
Subyek pada penelitian ini adalah Kelas VIII SMP Negeri 3 Tambakromo yang terdiri dari 134 siswa. Input siswa mempunyai latar belakang mata pencaharian orang tua dari pertanian dan pertambangan yang merantau. Keadaaan ekomoni yang lemah membuat mentalitas siswa ikut melemah dan cenderung minder.
3.      Data dan Sumber Data
Data penelitian meliputi aspek psikologis yang didapat dari perilaku keseharian dan kebiasaan siswa setiap hari. Aspek sosial yang didapat dari guru Bimbingan Sosial, wali kelas dan tokoh masyarakat, aspek akademis didapat dari penilaian kognitif, afektif dan psikomotorik siswa.
4.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data  dalam penelitian ini adalah pengamatan langsung, wawancara dan diskusi
5.      Validasi Data
Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data adalah triangulasi dan review informan kunci
6.      Teknik Analisis Data
Teknik yang digunakan untuk menganalisis data data adalah teknik analisis kritis. Selain itu juga sering digunakan teknik komparatif
7.      Indikator Kerja
Pemahaman fungsi Ikon toolbar dan submenu dapat diindikasikan dengan kesempurnaan dan kerapian pekerjaan yang berbasis word. Secara mentalitas siswa tidak lagi takut mencoba dan bisa menyesuaikan apa yang diberikan guru dengan kondisi mereka
8.      Prosedut penelitian
Tahap pertama : Fase ini meliputi kegiatan membentuk kalimat penyuluh yang memungkinkan siswa bebas untuk mengekspresikan perasaan sebagai tanda persetujuan. Sebagai contoh “ Setujukah para siswa bahwa microsoft word sangat berguna bagi kehidupan “, “ Cara apakah yang anda pilih saat membuatkan undangan adik anda, ditulis atau diketik komputer, apa alasanya ?”. Pada fase ini terjadi wawancara dengan hangat sehingga siswa merasa nyaman bercerita.
Tahap Kedua : Siswa didorong, dengan penerimaan klasifikasi guru, untuk mengekspresikan perasaan negatif dan positif, mengemukakan dan menemukan masalah. Ada beberapa hal kemungkinan yang bersifat negatif : siswa tidak berminat melanjutkan oleh karenanya tidak berminat dalam komputer, siswa ingin bekerja informal. Ada kemungkinan juga yang bersifat positif : siswa ingin melanjutkan, siswa ingin menjadi orang sukses.
Tahap Ketiga : Siswa secara berangsur angsur mengembangkan insigt ( pengertian yang mendalam ) membiarkan siswa yang berpikiran negatif untuk memperbaiki pemikiranya yang dikomparasikan dengan penguatan guru
Tahap Keempat : Siswa merencanakan tindakan, guru memberikan pekerjaan seperti membuat model tulisan koran atau membuat surat lamaran, guru mendampingi secara bergantian pada tiap komputer , melihat dan memberikan alternatif tanpa menghakimi dan menyasalahkan.Guru tidak memberikan contoh kepada perorangan tetapi secara klasikal yang berbasis pada masalah individual.
Tahap Kelima : Siswa mengemukakan tindakan yang dia ambil dengan menerjemahkan instruksi guru. Siswa yang lemah selalu dipantau secara periodik dan diberikan penguatan. Pada tahapan ini terjadi wawancara kenapa siswa lemah,. Guru bisa menggali lebih dalam , memberikan empati dengan suasana yang menyenangkan, memberikan motivasi dan solusi.










Share :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar